Kamis, 02 Agustus 2018

SYAWALAN SOWAN PAKU ALAM

Paku Alam X dan istri lenggah
Mimpi itu jadi nyata! Ceritanya begini man teman; awalnya saya sering kepingin ikut sowan di Kraton Paku Alaman, namun tidak tahu bagaimana caranya - kalau memang ada cara. 

Setiap syawal, saya mengantar anak-anak saya ke alun-alun Pakualaman yang bernama 'Sewandanan'. Di gerbang kraton yang biasanya dijaga oleh para Abdi Dalem itu, saya termangu. Bagaimana rasanya jika saya ikut masuk dan menyalami Paku Alam X? Mungkin saya akan merasa sangat bangga!

Sebenarnya saya sudah beberapa kali bertemu beliau, terutama saat wisuda sarjana/pascasarjana di kampus. Tapi kok, hasrat hati ini tetap kepengin ikut yang syawalan itu. Bedanya? Saat sawalan, Sri Paku Alam X mengenakan ageman Jawa, sedangkan saat menghadiri Upacara Wisuda beliau mengenakan baju nasional/internasional. 

Hingga tiba saatnya, ketika rekan dosen mengajak saya untuk menghadiri undangan syawalan itu. Wah, rasanya seneeeeeeeeng banget gaesss...sampai-sampai saya mau kejlungup (terjatuh ke depan) akibat bola-bali membaca undangan itu sambil jalan. Ya, salah saya sendiri, wong sudah tua kok pethakilan kaya Buto Cakil. 

--..--..--..--..--

Tibalah hari yang dinanti-nanti, tepatnya hari pertama lebaran di tahun ini, 2018. Bersama kawan-kawan berjumlah lima orang, saya datang dengan perasaan senang dan deg-degan. Bagaimana sih rasanya sowan itu? Apa yang akan saya alami di sana?

Sesampai di Kraton Paku Alaman, kami berjalan menuju meja among tamu, lalu menunjukkan undangan. "ooohhh...dari Perguruan Tinggi...njih...sebelah kiri pak..", kata petugas berbaju Jawa lengkap warna hitam. Rupanya dia adalah petugas penerima tamu. 

Sambil berjalan menuju tempat duduk yang telah ditunjuk, saya lihat beberapa pejabat keraton pun mulai rawuh. Sebagian besar berpakaian batik dan kebaya. Namun ada beberapa orang berpakaian Jawa bernuansa surjan putih, mereka duduk di sebelah kanan. Jumlahnya mungkin 20-an orang. Sungguh terlihat berwibawa dan pantes dengan balutan serba putih. Mungkin mereka ini para bupati, saya mbatin. Maunya sih saya poto, tapi kok saya malu. xixixixixi...

Di bagian depan terdapat dua dampar (kursi raja/permaisuri) masih kosong. Saya tidak mungkin kan duduk di situ. Dijamin kualat!

Saya memilih di sebelah kiri, agak maju ke arah dampar itu, kurang lebih baris ke tiga dari depan supaya tidak norak kalau saya nanti memotret makanan dsb. 

Di sekitar dampar yang kosong, beberapa orang yang sudah sepuh mulai menempatkan diri. Aura wajah mereka tampak sangat njawani, mata tajam meski cuma kriyip-kriyip, sikapnya kalem, namun penuh cahyo (aura), khas priyayi jawa sini. Mungkin mereka ini keluarga/kerabat dekat sang adipati. Mereka terlihat begitu ramah, bersalam-salaman ke kiri lalu ke kanan. Lalu duduk. Hmmm...mungkin begini jadinya syawalan di kraton tahun-tahun lalu, saat saya masih nginjen dari gerbang kraton itu. 

Dari jauh, barisan Prajurit Lombok Abang berderap-derap, melaju pelan kiri kanan kiri kanan. Usianya tak lagi muda. Badan tegap-tegap tak terlalu besar. Komandan berada paling depan, berkaus tangan putih, baju merah membuka sedikit di baguan bawah. Celanan setinggi lutut, dibalut kain batik yang diikat sabuk lapis-lapis. Pak komandan sangat gagah, kumisnya super tebal, membawa pedang terhunus. Diayun-ayun dibahunya. Sebenta-bentar sedikit membentak memberi aba-aba entah dalam bahasa apa. Tiba-tiba mereka berhenti di depan pendapa. Lalu posisi stand by

Paku Alam X hadir lalu menunduk, menghormat salam pada hadirin.
Tak lama njeng adipati hadir di pendapa, bersurjan hijau senyap, entah warna tua ataukah muda. Blangkon khas Jogja. Menebar aura, menghormat, menunduk pada para tamu. Permaisyuri di belakang, menyungging senyum mendukung kehadiran.

Senang sekali, upacara syawalan ini tanpa pidato sana-sini. Serba singkat padat. Hatiku bilang, "Saya setuju...orang jawa tak perlu banyak ba bi bu...hahahahaaa...".

Lalu tiba saat bersalaman. Njeng Adipati dan permaisuri jumeneng di dampingi para putra-putra dalem. Dimulai dari tamu di sebelah kanan, mereka maju ke depan. Tamu pertama yang bersalaman, wajahnya sering masuk koran. Bahkan tipi, lalu menerobos fesbuk, twiter dan instakram. Roy Suryo. 

Lalu makin ke belakang makin ke belakang menunggu giliran. Saya pun akhirnya bersalaman. Saya mengikuti tata cara Roy Suryo, dari jauh menyembah, lalu mendekat, sedikit menunduk, menjulurkan tangan kiri kanan dan mengucap sepatah-dua patah kata. Belum lagi saya berkata, sang Adipati mendahului, "Sugeng riyadi syawal...". Saya balas, "matur nuwun, sinuwun". Lalu ke permaisuri dan para putra dalem. "terima kasih mas!", mereka sungguh ramah.

Selesai bersalaman.

Tibalah tarian dan suguhan lain-lain. Nah....lain-lain ini justru yang bikin penasaran. Apaan sihh..??

Ouh ternyata, minuman sirup manis sedang, lalu disusul makanan pembuka sangga buana, lalu sop kembang kol, lalu lontong opor lalu es krim. Semua datang dengan sendirinya, berurutan, seperti kereta api. Ini lalu itu lalu yang lainnya. 

Setelah itu, komandan pasukan memberi aba-aba. Mungkin itu pengormatan pada komandan upacara. Sebenta kemudian sang Adipati jengkar, diikuti permaisuri, para putra dan seluruh pengiring yang hampir semua perempuan remaja. 



Lalu sop
Sirup dan Sangga Buana


Opor istimewa
Es krim

Selesai sudah. Singkat. Padat. Sarat makna.!! Jogjaku istimewa!!!  









Tidak ada komentar:

Posting Komentar